Sabtu, 14 April 2012
Demo Berbuntut Malu
Rosa sedang asik makan di kantin sekolah saat teman-temannya sibuk membicarakan sesuatu yang sepertinya cukup serius. Awalnya, cewek bertubuh tinggi besar itu gak mau tau topik apa yang membuat teman-temannya begitu sibuk. Tapi, lama kelamaan dia penasaran juga.
"Heh, pada ngomongin apaan sih? Serius banget kayaknya," rasa penasaran Rosa udah gak kebendung.
"Itu soal pensi kita yang gak disetujuin sama kepala sekolah. Udah gitu katanya proposalnya sampe dilempar segala," timpal Puspa, salah satu temannya yang memang anggota ekskul Modern Dance.
"Wah, serius? Ampe dilempar?"
"Yaelah, Sa. Kemana aja sih lu? Malahan nih ya, sekarang anak-anak kelas dua sama tiga mau pada demo belajar abis istirahat ini. Kita mau pulang semua. Bakalan rame deh kayaknya," kali ini Hani, teman Rosa yang lain, ikut berkomentar.
"Wah," mata Rosa makin terbelalak. "Kita kan kelas dua, berarti ikutan juga dong? Kok gua gak tau ya?"
"Lu mah makan mulu sih taunya. Iyalah harus ikutan. Secara pak kepsek itu gak nyetujuin cuma karena katanya pensi gak penting. Mending kepsek yang dulu ya dari pada si kumis ini," gerutu Puspa lagi. Rosa angguk-angguk tanda setuju.
Akhirnya, seperti kata Hani, anak-anak kelas dua dan tiga demo abis-abisan. Dari sepuluh kelas 2 dan sepuluh kelas 3, semuanya gak ada yang mau ngelanjutin belajar. Semuanya tumpah di lapangan buat pulang dengan menenteng tas masing-masing, termasuk Rosa. Anak ini semangatnya tersulut kala melihat begitu banyak anak-anak yang demo. Sayangnya pak satpam menutup pintu gerbang sebagai satu-satunya jalan keluar masuk SMA ini.
Guru-guru terpancing untuk menenangkan massa yang begitu bernafsu buat pulang. Tapi gak ada yang bisa mereka lakukan, sementara kepala sekolah gak terlihat sedikitpun batang hidungnya. Pak Satpam meskipun dibantu wakil kepala sekolah kesiswaan dan petugas kantin, tetap kewalahan menahan gempuran anak-anak yang jelas lebih banyak.
Anak-anak tetap pada pendirian mereka. Karena gerbang gak kunjung dibuka, sebagian memanjat gerbang yang memang gak terlalu tinggi buat keluar. Melihat hal itu, Rosa yang memang tomboy dan suka hal-hal menantang seperti itu, malah pengen ikut-ikutan manjat. Ia menghentikan teriakannya.
"Pus, kita manjat aja tuh kayak mereka yuk!" ajak Rosa pada Puspa.
"Manjat? Gimana ya? Takut ah."
"Ah lu mah payah." Rosa melihat ke sekeliling dan pandangannya terantuk pada kursi plastik tukang baso tahu. "Mang, pinjem," tanpa menunggu jawaban si mang, ia langsung mengambil itu kursi.
Rosa menembus kerumunan dan menerobos ke barisan paling depan dekat gerbang. Teriakan anak-anak masih terdengar nyaring di sana-sini kayak lagi ada konser musik. Rosa meletakkan kursi plastik yang ia ganyang dari tukang baso tahu di tanah, dan menyuruh Puspa untuk naik. Dengan dibantu dorongan Rosa, sahabatnya akhirnya berhasil melewati pagar dan keluar.
Giliran dirinya sekarang. Dorongan dari belakang makin kuat dan Rosa sekarang udah berdiri di atas kursi dan mulai bersiap-siap. Tapi ia agak kesulitan mengangkat roknya yang panjang. Kalau ia tahu hari ini ada demo ia akan pakai celana sekalian. Ia masih berusaha di tengah dorongan massa dari belakang. Kaki kanannya mulai diangkat untuk mulai memanjat, dan akhirnya,
"Brakkk!!" Kaki kiri Rosa yang masih menginjak kursi plastik terjerembab ke bawah. Kursi itu bolong dan kakinya tergores pecahan kursi plastik.
Melihat kejadian itu, kontan orang-orang didekatnya mengubah teriakan marah menjadi tawa, termasuk Pak Satpam, wakepsek kesiswaan, sampe si tukang baso tahu. Malahan si tukang baso tahu berkomentar, "Gendut teuing meureun neng," sambil terus ngakak.
Di sisi lain Rosa cuma manyun dan garuk-garuk kepala. Kalau biasanya ada demo yang berbuntut maut, buat dia ini sih namanya demo berbuntut malu. Ampun deh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar