Sabtu, 14 April 2012

Sekeping Rasa Sakit

Saya, Adinda Rahmawati, ga pernah menyangka kalo suatu saat bakalan ngerasain hati saya terluka lagi. Saya juga ga pernah menyangka kalo saya bakalan duduk lagi di teras atas rumah malem-malem, merhatiin langit, ngobrol sama bintang sambil berlinangan air mata. Saya bener-bener ga pernah nyangka kalo saya bakalan jatuh lagi.

    Rasanya saya baru aja kemarin dijatuhkan ke dalam sumur oleh seseorang. Dan setelah ada orang yang lain membantu saya untuk kembali naik ke permukaan, ternyata orang itu malah hanya memindahkan saya dari sumur ke jurang.

   Butuh waktu satu tahun untuk bisa pulih dari sakit hati yang saya rasain terakhir kali putus cinta. Saya dicampakkan dengan status bukan sebagai mantan pacar tetapi sebagai mantan pelarian. Saya pikir itu sakit hati paling tragis yang pernah saya alami, tapi ternyata saya ga pernah menyangka kalau setelah itu saya akan mengalami hal yang lebih mengkhawatirkan.

    Setahun kemudian saya dihampiri cupid sang malaikat cinta. Panah pesona seorang pria sederhana yang hanya bekerja sebagai fasilitator flying fox di sebuah taman air yang terkenal di Garut menancap di hati saya hanya lima menit setelah kami berkenalan dan mengobrol.
     Satu minggu kemudian tanpa pikir terlalu lama, kami mengubah status menjadi sepasang kekasih setelah Dika, namanya, meminta saya menjadi pacarnya lewat telfon karena kami berada di kota yang berbeda. Sayangnya, tiga hari kemudian, dengan alasan menyerah pada hubungan jarak jauh, Dika memutus hubungan.
      Saya tercampakkan tanpa merengkuh kebahagiaan saya lebih lama lagi. Sebongkah cinta yang saya pikir saya dapatkan setelah beberapa saat setelah kesembuhan saya akan masalah di masa lalu, ternyata hanya numpang lewat begitu saja. Bahkan saya dan Dika belum pernah jalan bersama semenjak jadian. Pria hitam manis dengan lesung pipit itu sukses membuat saya berurai air mata selama hampir tiga bulan.
      Sakit hati? Pasti. Sejatinya saya cuma seorang wanita biasa yang menurut cerita selalu melibatkan hati dimana pria selalu melibatkan pikiran. Tapi itu adalah fase hidup dimana jika tidak saya lewati saya tidak akan pernah bisa melewati level kehidupan selanjutnya.
      Sebuah pepatah tentang perlunya sekeping rasa sakit yang saya kutip dari entah siapa, menampar saya. It says,
"Sometimes all you need is a broken heart to realize that something even better is right in front of your eyes." It's just the matter of way of God to show the good things, isn't it?

Dare or Dare –Part 2


Deris berhasil dan dia bernafsu banget bales dendam sama dua temennya yang daritadi gak berhenti ngakak. Akhirnya tinggal gua sama Tia yang harus bejibaku menghindari tantangan kedua yang bakalan dikasih Deris. Tapi sialnya, di game ayam-ayaman kedua ini gua malah keok. Akhirnya Deris ngasih tantangan supaya gua pura-pura jadi orang katro yang gak bisa naik escalator dan kudu minta tolong sama satu orang buat naik escalator. Tantangan macam apa ini? Jadi orang katro begini doang mah keciiiiiiiilllll…. Secara gua emang katro beneran, ahahahaha
Akhirnya ekseskusi pun tiba. Tapi eksekusi gua ini jadinya turun escalator bukannya naik seperti rencana, soalnya keburu nyampe jadwalnya karokean cuuy. Balik lagi ke eksekusi. Gua akhirnya ditinggalin temen-temen gua yang sembunyi entah dimana. Pas banget ada cowok metroseksual yang mau turun ke lantai dua, dan disanalah gua beraksi dengan mudahnya dan tanpa tau malu. Gua pegang tangan tuh cowok yang cukup ganteng buat turun. Si cowok malah nanya "Kenapa takut?", dengan tiisnya gua jawab, "Bukan takut mas, tapi emang gak bisa." Gak tau deh apa yang dipikirin tuh cowok. Mana dia bertiga sama temennya pula. Gua yakin dalam hati mereka ngetawain gua. Bodo deh. Tapi semoga gua gak pernah ketemu mereka lagi lah, hiiiiii…. Misi berhasil. Dan dengan mendongakkan kepala gua melirik temen-temen gua yang lagi menuruni escalator mall sambil bertepuk tangan ke arah gua. OK, terima kasih sambutannya kawan-kawan (loh?! :)).
Dan korban terakhir kita harap-harap cemas nih. Gua sama Deris bingung ngasih tantangan apaan. Tadinya gua pengen ngasih tantangan dia ngepel di mall, tapi orang yang suka ngepelnya kagak ada. Mungkin gara-gara udah malem juga. Tapi akhirnya gua ada ide pas keluar mall. Dan Tia pun kudu jadi

Dare or Dare -Part 1


Ke mall lagi, ke mall lagi. Bosen juga sih sebenernya jalan-jalan di mall mulu, tapi apa mau dikata, karena keterbatasan waktulah gua dan ketiga sahabat gua milih buat karokean aja. Karokean memang jadi salah satu cara yang cukup ampuh bagi gua, Deris, Tia, dan Purnama buat keluar dari rasa stress akibat kegiatan masing-masing.
Setelah selesai kuliah, kita memang jadi jarang ketemu. Ini nih yang tadi gua bilang keterbatasan waktu. Gua memilih hidup di Garut beberapa bulan belakangan dan baru bisa ke Bandung pas weekdays bukan weekend gara-gara ada jadwal siaran. Sedangkan Deris dan Purnama kerja di Bandung yang liburnya normal hari Sabtu sama Minggu. Alhasil, setiap gua ke Bandung, ketemu sekitaran pusat kota atau mall? Kan gak mungkin juga ke daerah Lembang atau Tangkuban Perahu atau malah keluar Bandung.
Tapi gua dan temen-temen gua punya cara ampuh yang bikin jalan-jalan di mall yang biasa jadi luar biasa. Sambil nunggu jadwal karokean dan nunggu Purnama yang belum nongol nih, gua, Tia, sama Deris bikin game yang biasa kita maenin waktu kuliah. Kalau orang lain biasanya maen game 'truth or dare', kita bertiga menghilangkan aturan 'truth' nya karena bagi kita gak penting mengetahui rahasia orang. Jadinya game kita ini namanya 'dare or dare' atau kita biasanya nyebut 'dare-dare-an'.
Sebenernya udah lama banget kita gak maen game ini, semenjak anak-anak sibuk ngurusin diri sendiri buat lulus kuliah, yah kira-kira setaun lebih lah. Dan sekarang, jelas kita bertia excited-nya gak ketulungan. Apalagi maennya di sekitaran jalan Merdeka yang merupakan salah satu pusat keramaian kota Bandung dan dimana saat ini adalah saat yang gua impi-impikan sejak dahulu kala, halah.
Satu tantangan ditentukan sama maen game ayam-ayaman dulu. And the lucky nomor one yang kalah duluan dan harus ngejalanin tantangan adalah Deris. Hahaha… dia yang ngajak maen duluan, dia juga yang harus dipermalukan duluan. Dan tantangan buat dia dikasih sama Tia, yaitu sebagai

Demo Berbuntut Malu


Rosa sedang asik makan di kantin sekolah saat teman-temannya sibuk membicarakan sesuatu yang sepertinya cukup serius. Awalnya, cewek bertubuh tinggi besar itu gak mau tau topik apa yang membuat teman-temannya begitu sibuk. Tapi, lama kelamaan dia penasaran juga.
"Heh, pada ngomongin apaan sih? Serius banget kayaknya," rasa penasaran Rosa udah gak kebendung.
"Itu soal pensi kita yang gak disetujuin sama kepala sekolah. Udah gitu katanya proposalnya sampe dilempar segala," timpal Puspa, salah satu temannya yang memang anggota ekskul Modern Dance.
"Wah, serius? Ampe dilempar?"
"Yaelah, Sa. Kemana aja sih lu? Malahan nih ya, sekarang anak-anak kelas dua sama tiga mau pada demo belajar abis istirahat ini. Kita mau pulang semua. Bakalan rame deh kayaknya," kali ini Hani, teman Rosa yang lain, ikut berkomentar.
"Wah," mata Rosa makin terbelalak. "Kita kan kelas dua, berarti ikutan juga dong? Kok gua gak tau ya?"
"Lu mah makan mulu sih taunya. Iyalah harus ikutan. Secara pak kepsek itu gak nyetujuin cuma karena katanya pensi gak penting. Mending kepsek yang dulu ya dari pada si kumis ini," gerutu Puspa lagi. Rosa angguk-angguk tanda setuju.
Akhirnya, seperti kata Hani, anak-anak kelas dua dan tiga demo abis-abisan. Dari sepuluh kelas 2 dan sepuluh kelas 3, semuanya gak ada yang mau ngelanjutin belajar. Semuanya tumpah di lapangan buat pulang dengan menenteng tas masing-masing, termasuk Rosa. Anak ini semangatnya tersulut kala melihat begitu banyak anak-anak yang demo. Sayangnya pak satpam menutup pintu gerbang sebagai satu-satunya jalan keluar masuk SMA ini.
Guru-guru terpancing untuk menenangkan massa yang begitu bernafsu buat pulang. Tapi gak ada yang bisa mereka lakukan, sementara kepala sekolah gak terlihat sedikitpun batang hidungnya. Pak Satpam meskipun dibantu wakil kepala sekolah kesiswaan dan petugas kantin, tetap kewalahan menahan gempuran anak-anak yang jelas lebih banyak.
Anak-anak tetap pada pendirian mereka. Karena gerbang gak kunjung dibuka, sebagian memanjat gerbang yang memang gak terlalu tinggi buat keluar. Melihat hal itu, Rosa yang memang tomboy dan suka hal-hal menantang seperti itu, malah pengen ikut-ikutan manjat. Ia menghentikan teriakannya.
"Pus, kita manjat aja tuh kayak mereka yuk!" ajak Rosa pada Puspa.
"Manjat? Gimana ya? Takut ah."
"Ah lu mah payah." Rosa melihat ke sekeliling dan pandangannya terantuk pada kursi plastik tukang baso tahu. "Mang, pinjem," tanpa menunggu jawaban si mang, ia langsung mengambil itu kursi.
Rosa menembus kerumunan dan menerobos ke barisan paling depan dekat gerbang. Teriakan anak-anak masih terdengar nyaring di sana-sini kayak lagi ada konser musik. Rosa meletakkan kursi plastik yang ia ganyang dari tukang baso tahu di tanah, dan menyuruh Puspa untuk naik. Dengan dibantu dorongan Rosa, sahabatnya akhirnya berhasil melewati pagar dan keluar.
Giliran dirinya sekarang. Dorongan dari belakang makin kuat dan Rosa sekarang udah berdiri di atas kursi dan mulai bersiap-siap. Tapi ia agak kesulitan mengangkat roknya yang panjang. Kalau ia tahu hari ini ada demo ia akan pakai celana sekalian. Ia masih berusaha di tengah dorongan massa dari belakang. Kaki kanannya mulai diangkat untuk mulai memanjat, dan akhirnya,

Mencintai atau Dicintai?


Karena dalam hidup itu terkadang dihadapkan pada dua pilihan sulit, bagaimana kalau pilihan itu antara mencintai atau dicintai? Yah, semua orang pasti pengen ngerasain dua-duanya dong, mencintai sekaligus dicintai, bukankah hidup itu sempurna kalau begitu? Tapi, coba kita lihat hal ini sebagai sesuatu yang harus dipilih salah satunya.
Buat gua, mencintai itu sesuatu yang langka. Jadi sekalinya mencintai, sensasinya gak bisa digantiin oleh apapun. Dan dicintai, bagi gua jauh lebih langka. Meskipun begitu, kalaupun harus memilih, gua lebih milih mencintai. Kenapa?

If there is a way, there is a disruption


Entah bulan apa di tahun 2006. Akhirnya jadi mahasiswa juga. Itu kali ungkapan yang tepat waktu pertama kali gua menginjakkan kaki di salah satu universitas negeri ternama di Bandung dimana gua diterima menjadi salah satu mahasiswanya. Seneng? Pasti! Antusias? Gak juga tuh.
Gua menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di salah satu universitas keguruan ternama di Bandung di tahun yang sama dengan kelulusan gua dari SMA. Gua bersukur punya mamah yang siang malem berdo'a supaya gua diterima di universitas ini meskipun sebenernya gua gak begitu pengen jadi guru. Gua diterima lewat jalur SMPB (sekarang SNMPTN-ribetnya nih singkatan), dan ini membuat gua benar-benar yakin bahwa do'a seorang ibu itu pasti dikabul. Kenapa?
Karena eh karena, pertama, gua ini salah satu murid program IPA di SMA, tapi setelah gua pikir-pikir gua ini passion-nya di hal-hal yang gak sesaklek ilmu alam. Akhirnya gua memutuskan untuk kuliah jurusan bahasa dengan mengambil program IPS (tolong digarisbawahi itu). Dengan waktu kurang lebih 5 minggu persiapan SPMB, temen-temen gua ngatain gua SARAP!
Meskipun dikatain, toh gua asik-asik aja, soalnya gua nyadar kok gua sarap. Pelajaran IPS gak bisa disepelein. Dengan setahun gua belajar IPA dan harus belajar IPS dalam 5 minggu, gua perlu kerja keras. Dan seperti kata pepatah, "If there is a will, there is a way", salah satu tempat bimbingan belajar cukup ternama membuka cabang baru deket SMA gua dan yang paling penting ngasih DISCOUNT buat program intensive SPMB selama sebulan. Hoooreeeee…..
Eits, sayangnya,

Sabtu, 07 April 2012

Apa Adanya? – Part 1

Gua sering banget denger orang-orang yang kenal gua, itu mereka bilang kalau gua apa adanya. Terus, gua baru tau saat training di radio Bintang, gua itu diterima jadi penyiar karena gua apa adanya. Terus gua juga dikasih tahu sama admin di radio Bintang itu kalau Pak Manager itu jadiin gua penyiar favoritnya karena gua apa adanya. Tapi nih ya, jujur sejujur-jujurnya, gua sama sekali gak ngerti apa itu arti 'apa adanya'? Gua nanya sama orang kebanyakan jawab 'gak jaim'. Tapi gua masih gak ngerti. Jaim itu jaga image kan, dan image itu dibentuk kan? Gua yakin orang yang diem, ngejaga sikap, itu emang image yang dia bentuk, dia pengen dikenl orang sebagai orang yang seperi itu. Begitu juga sama cewek yang tomboy atau cuek, kyaknya itu juga image yang pengen dia bangun dan dia jaga. Jadi, kalau apa adanya itu gak jaim, orang yang jaim berarti gak apa adanya dong? Tapi menurut gua sih, orang yang jaim belum tentu gak apa adanya karena apa yang gua bilang tadi, image itu dibentuk oleh diri sendiri. Jadi apa adanya itu masih berarti gak jaim? Kalau bukan, terus apa adanya itu yang gimana coba?

Jumat, 06 April 2012

Hidup Itu Penuh Pilihan


Waktu pertama kali gua denger orang bilang kalau hidup itu penuh pilihan, gua kira maksudnya adalah dalam hidup banyak pilihan yang bisa gua ambil. Tapi, setelah gua lulus kuliah, gua baru bener-bener ngerti maksud dari "Hidup itu penuh pilihan".
Gua lulus kuliah di bulan Juni tahun lalu setelah mengenyam pendidikan S1 di universitas bagi para calon pengajar di Bandung selama tepat 5 tahun. Untuk ukuran S1, kelulusan gua ini molor setahun dong, tapi gua masih lega soalnya jurusan yang gua ambil di universitas ini, lama kuliah 5 tahun masih ditolerir secara jurusan gua ini emang terkenal banget suka "nyusahin" mahasiswa buat lulus. Ditambah lagi, gua orang pertama yang lulus diantara temen-temen gua yang sama 'nyeleneh' nya sama gua. Hahaha… (berasa bangga gitu)
Gua wisuda sebulan setelah lulus dan sebulan setelah wisuda gua ditawarin ngegantiin guru bahasa inggris yang lagi cuti hamil selama sebulan di Garut. Dan tanpa pikir panjang gua ambil. Kenapa gua ambil? Soalnya gua inget kalau gua pernah janji sama diri gua bahwa setelah gua lulus, gua pengen ngajar di Garut, kampung halaman orang tua gua, sebulaaaaaan aja, gak dibayar pun gak apa-apa. Gila nyah gua kumat waktu itu. Padahal 

The Raid, ‘miskin’ cerita ‘kaya’ kesan


Seorang pria tampan sedang menjalankan ibadah salat dengan khusuknya. Lalu masih pria yang sama, ia meninju dengan keras samsak yang digantung di hadapannya berkali-kali layaknya memukul seseorang yang ia benci. Beberapa saat kemudian, pria lain dengan hanya mengenakan kaos singlet dan celana panjang serta rambut yang cukup gondrong acak-acakan, meletakkan mangkuk berisi mie di atas meja dan meraih sebuah pistol mungil. Sepersekian detik kemudian, DUAAAARRRRRR!!!!!! Suara tembakan memekakkan telinga diikuti semburan darah dari seorang pria yang sedari tadi kedua tangannya diikat dan mulutnya diplester, namun kini tergolek gak berdaya setelah sebutir timah panas ditembuskan ke kepalanya dari jarak sangat dekat. Begitu seterusnya sampai lima orang sudah tergeletak gak bernyawa dan cuma tersisa satu orang pada akhirnya bergabung dengan kelima rekannya setelah kepalanya dihantam palu. Gua cuma bisa melotot dan menganga.
Kurang lebih baru lima belas menit gua duduk di kursi bernomor 14 di barisan F di salah satu bioskop di Bandung,