Saya, Adinda Rahmawati, ga pernah menyangka kalo suatu saat bakalan ngerasain hati saya terluka lagi. Saya juga ga pernah menyangka kalo saya bakalan duduk lagi di teras atas rumah malem-malem, merhatiin langit, ngobrol sama bintang sambil berlinangan air mata. Saya bener-bener ga pernah nyangka kalo saya bakalan jatuh lagi.
Rasanya saya baru aja kemarin dijatuhkan ke dalam sumur oleh seseorang. Dan setelah ada orang yang lain membantu saya untuk kembali naik ke permukaan, ternyata orang itu malah hanya memindahkan saya dari sumur ke jurang.
Butuh waktu satu tahun untuk bisa pulih dari sakit hati yang saya rasain terakhir kali putus cinta. Saya dicampakkan dengan status bukan sebagai mantan pacar tetapi sebagai mantan pelarian. Saya pikir itu sakit hati paling tragis yang pernah saya alami, tapi ternyata saya ga pernah menyangka kalau setelah itu saya akan mengalami hal yang lebih mengkhawatirkan.
Setahun kemudian saya dihampiri cupid sang malaikat cinta. Panah pesona seorang pria sederhana yang hanya bekerja sebagai fasilitator flying fox di sebuah taman air yang terkenal di Garut menancap di hati saya hanya lima menit setelah kami berkenalan dan mengobrol.
Satu minggu kemudian tanpa pikir terlalu lama, kami mengubah status menjadi sepasang kekasih setelah Dika, namanya, meminta saya menjadi pacarnya lewat telfon karena kami berada di kota yang berbeda. Sayangnya, tiga hari kemudian, dengan alasan menyerah pada hubungan jarak jauh, Dika memutus hubungan.
Saya tercampakkan tanpa merengkuh kebahagiaan saya lebih lama lagi. Sebongkah cinta yang saya pikir saya dapatkan setelah beberapa saat setelah kesembuhan saya akan masalah di masa lalu, ternyata hanya numpang lewat begitu saja. Bahkan saya dan Dika belum pernah jalan bersama semenjak jadian. Pria hitam manis dengan lesung pipit itu sukses membuat saya berurai air mata selama hampir tiga bulan.
Sakit hati? Pasti. Sejatinya saya cuma seorang wanita biasa yang menurut cerita selalu melibatkan hati dimana pria selalu melibatkan pikiran. Tapi itu adalah fase hidup dimana jika tidak saya lewati saya tidak akan pernah bisa melewati level kehidupan selanjutnya.
Sebuah pepatah tentang perlunya sekeping rasa sakit yang saya kutip dari entah siapa, menampar saya. It says, "Sometimes all you need is a broken heart to realize that something even better is right in front of your eyes." It's just the matter of way of God to show the good things, isn't it?