"Wanita adalah salah satu makhluk terindah yang Tuhan ciptakan". Gua lupa dari siapa kata-kata itu gua denger, tapi gua sebagai wanita ya setuju-setuju aja lah karena gua anggap bahwa itu tak bisa terbantahkan adalah sebuah pujian.
"Dibalik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita, begitu juga dibalik kehancurannya." Kata-kata yang kedua ini gua juga lupa denger dari siapa, dan setuju gak setuju sih gua, tapi ya gua anggap sebagai hal positif lagi lah (pan katanya harus positive thinking, em?!). Gua anggap bahwa begitu berperannya wanita terhadap kehidupan laki-laki ternyata. Kesannya tanpa wanita di kehidupan mereka, para pria gak akan merasakan kehancuran apalagi kesuksesan, pan katanya kehancuran itu kesuksesan yang tertunda (ada yang aneh kayaknya sama pepatah yang satu ini).
Sayangnya, "peran" seorang wanita itu agak sulit untuk ditawarkan secara langsung.
Mereka harus menunggu seorang pria yang menawarkan diri untuk mendapatkan peran istimewa wanita dalam hidupnya. Maksudnya gini, setau gua dari jaman siti nurbaya, emansipasi wanita yang dijunjung Kartini, sampai berkuasanya Megawati (who is a woman) di negara ini, yang namanya cewek pasti nunggu cowok PDKT duluan, meskipun dia naksir setengah mati sampe ngapalin plat nomor motor tuh cowok dan nongkrong di jalan yang biasa dilewatin tuh cowok kalo pulang ngampus (how silly I am!).
Mungkin secara naluriah para wanita mengucap ikrar bersama jauh sebelum Alexander Graham Bell bikin telfon, apalagi Mark Zuckerberg (susah banget sih nama) bikin facebook, bahwa wanita akan menjaga harga dirinya untuk tidak mengucap cinta terlebih dahulu. Meskipun kenyatannya sih sekarang banyak cewek yang 'gerak' duluan, tapi gua yakin jumlahnya gak lebih banyak dari pemakai BB di Indonesia.
Nah terus gimana caranya cewek mau PDKT tapi dengan cara yang gak ekstrim? Gua dan dua sahabat (Denisa dan Tiara) gua pernah melakukan hal konyol waktu kuliah tingkat 2 (sekarang gua udah kerja dong, hehe bangga dikit). Seperti kebanyakan cewek umur 18an, kami pasti punya kecengan dong. Gua selalu tersepona sama pesona senior yang setingkat di atas gua, kita sebut saja namanya Ahmed, dan bikin gua gugup tiap kali mau nyoba kenalan. Sedangkan Denisa waktu itu lagi suka banget sama anak jurusan tetangga yang rada pemalu dan alim, sebut saja Bung Kusan. Nah, Tiara itu paling aneh, dia malah kesengsem sama Office Boy bank ternama cabang kampus gua yang sering bolak-balik depan tempat nongkrong kita sambil bawa teh botol, mie ayam, dan beberapa bungkus rokok. Kita menyebutnya Bang Ajib.
Ngeliat temennya tersiksa karena penderitaan 'cuma bisa ngeliatin sambil senyum-senyum', Denisa secara spontan mengeluarkan ide konyol tapi brilian. Kita berakting sebagai mahasiswa yang magang di sebuah media cetak baru dan harus mewawancarai orang-orang yang : mukanya mirip artis, anak band kampus, dan pria alim untuk mengisi rubrik majalah. And unpredictable, it worked very well.
Tiara sukses kenalan sama Bang Ajib dengan dalih mewawancarai dia yang mirip Fauzi Baadillah (sungguh mirip). Bahkan tukeran nomer hp dengan dalih menjadwalkan wawancara, dan mendapatkan fotonya yang sebagaimana majalah harus ada bukti dokumentasi. Gua berhasil kenalan, berjabatan tangan, mencari tau hobi dan segala hal yang menyangkut Ahmed hasil dari wawancara gua untuk rubrik 'anak band' dimana dia di jurusan gua sudah terkenal sebagai drummer handal, plus foto meskipun seminggu kemudian kehapus kayaknya. Dan Denisa, berhasil ngobrol lama sambil mandangin wajah tampan Bung Kusan.
Sampai kita lulus pun tuh majalah gak pernah beredar, tetap menjadi sesuatu yang fiktif. Yang ga fiktif adalah keberhasilannya membuat kami selangkah lebih dekat dengan pria-pria yang kami taksir (Tiara bahkan sempat sangat dekat dengan Bang Ajib dan Denisa hampir ditembak malah sama Bung Kusan, meskipun takdir berkehendak lain, halah).
So, mungkin bisa jadi referensi buat cewek-cewek yang pengen kenalan sama cowok yang ditaksir tanpa harus dicap agresif. Semoga lebih berhasil dari cewek-cewek konyol di atas yah :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar